<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Keluarga &#187; Kisah</title>
	<atom:link href="http://keluarga.kangsandi.com/category/kisah/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://keluarga.kangsandi.com</link>
	<description>Kang Sandi &#38; Teh Dias</description>
	<lastBuildDate>Wed, 11 Aug 2010 05:02:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Sirah -Ujian Syafahi- Part 1</title>
		<link>http://keluarga.kangsandi.com/kisah/sirah-ujian-syafahi-part-1.html</link>
		<comments>http://keluarga.kangsandi.com/kisah/sirah-ujian-syafahi-part-1.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Feb 2010 07:21:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Teh Dias</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://keluarga.kangsandi.com/?p=575</guid>
		<description><![CDATA[Hari kedua ujian akhir kami, pelajar ma3had al-imarat mustawwa 3.. al7amdulillaah sudah agak merasa lega, karena telah duluan mendapat giliran untuk diuji.. sembari agak mengeluh dikarenakan ketidakmampuan saya menjawab pertanyaan2 yang diluar dugaan.. Tak berapa lama berselang, datang seorang sahabat yang baru saja keluar dari ruang &#8220;panas&#8221;. sontak kami pun menanyakan perihalnya ketika diuji tadi. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p><img class="alignleft" src="http://photos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs168.snc3/19546_1271464679469_1615453715_654875_4124481_n.jpg" alt="" width="124" height="104" /></p>
</div>
<div>Hari kedua ujian akhir kami, pelajar ma3had al-imarat mustawwa 3..<br />
al7amdulillaah sudah agak merasa lega, karena telah duluan mendapat giliran untuk diuji..<br />
sembari agak mengeluh dikarenakan ketidakmampuan saya menjawab pertanyaan2 yang diluar dugaan..</div>
<div>
<p>Tak berapa lama berselang, datang seorang sahabat yang baru saja keluar dari ruang &#8220;panas&#8221;.<br />
sontak kami pun menanyakan perihalnya ketika diuji tadi.<br />
sama sepertinya, pertanyaan2 yang diajukan memang di luar dugaan.<br />
dan sahabat ini pun mulai bertanya<span id="more-575"></span></p>
<p>Dia : Teh, siapa 3 orang kuffar yang bertarung face to face dengan 3 orang dari golongan kaum muslimin di perang badar?</p>
<p>Saya : Aduh, aasif gak tau, gak ada di buku. Adanya cm 3 orang yg dari golongan kaum muslimin (ali ibn abi thalib, hamzah ibn abdil muthalib, 3ubaidah ibn al-haarits)</p>
<p>Agak terkejut memang dengan tipe2 soal kali ini, tapi sungguh saya sangat mensyukurinya. Ustadzah mengajarkan kami untuk tidak terpaku dengan apa yang ada di buku tapi juga mengembangkan pengetahuan dan wawasan dengan membaca referensi2 yang lain.</p>
<p>Qadarullaah, dengan kejadian ini saya jadi menggarisbawahi beberapa kisah yang mungkin akan saya lewati begitu saja tanpa perhatian yang lebih jika tidak ada pertanyaan seperti ini.. Allaah memang Sang Pengatur..</p>
</div>
<p>Tadi malam, karena memang susah sekali untuk tidur, saya mengambil satu buah buku berjudul &#8220;Kisah Teladan 20 Sahabat Nabi untuk Anak&#8221;<br />
wah.. judulnya untuk anak, padahal saya udah tua begini. Tapi ternyata isinya bermanfaat sekali, jadi malu.. padahal buku ini buat anak-anak, tapi masih banyak sekali kisah-kisah sahabat yang belum saya ketahui</p>
<p>Dan menemukan kisah tentang 3 orang kuffar di perang badar pada halaman ke 77<br />
&#8220;Pada perang Badar ini para pembesar kaum kafir, yaitu : UTBAH IBN RABI&#8217;AH, saudara laki-lakinya yang bernama SYAIBAH, serta putranya yang bernama WALID IBN UTBAH berkata : &#8216;Adakah orang yang ingin berduel dengan kami?&#8217; Sementara itu dari kaum muslimin keluarlah MU&#8217;ADZ IBN AFRA&#8217;, MU&#8217;AWWADZ IBN AFRA&#8217; dan ABDULLAH IBN RAWAHAH. Ketiganya berasal dari kelompok Anshar. Melihat itu, laum musyrikin berkata : &#8216;Kami hanya menginginkan anak-anak paman kami.&#8217; Maksudnya mereka menginginkan kaum Muhajirin.</p>
<p>Rasulullaah SAW berseru : &#8220;Wahai HAMZAH IBN ABDIL MUTHALIB, berdirilah! Wahai UBAIDILLAAH IBN AL-HARITS berdirilah! Dan wahai ALI IBN ABI THALIB, berdirilah (untuk menghadapi mereka)!</p>
<p>Nah teman2, sepertinya pertanyaan ustadzah terjawab sudah (para pembesar kaum kafir, yaitu : UTBAH IBN RABI&#8217;AH, saudara laki-lakinya yang bernama SYAIBAH, serta putranya yang bernama WALID IBN UTBAH), mudah-mudahan saja benar.</p>
<p>*Note :<br />
(1) Di buku syafahi tertulis Ubaidah, di buku &#8220;Kisah Teladan 20 Sahabat Nabi untuk Anak&#8221; tertulis Ubaidillaah..</p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fkeluarga.kangsandi.com%2Fkisah%2Fsirah-ujian-syafahi-part-1.html&amp;linkname=Sirah%20-Ujian%20Syafahi-%20Part%201"><img src="http://keluarga.kangsandi.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://keluarga.kangsandi.com/kisah/sirah-ujian-syafahi-part-1.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BIJAK ATAU MENYERAH (wisdom or surrender?)</title>
		<link>http://keluarga.kangsandi.com/kisah/bijak-atau-menyerah-wisdom-or-surrender.html</link>
		<comments>http://keluarga.kangsandi.com/kisah/bijak-atau-menyerah-wisdom-or-surrender.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Jan 2010 10:32:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Teh Dias</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Kumpulan Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Sister Corner]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://keluarga.kangsandi.com/?p=568</guid>
		<description><![CDATA[Bism Allah, ar Rahmaan ar Rahiim, Kisah di bawah ini mengingatkanku pada hari-hari pertama aku mengenakan abaya. Sekelompok anak kecil menari-nari di sekelilingku, mengejekku &#8220;ninja kesasar&#8230;ninja kesasar&#8230;&#8221;. ***** Malam tadi, sesuatu terjadi padaku. Aku pergi bersama suamiku dan sekelompok anak muda yang bagiku tampak seperti anggota gang melecehkan aku. Salah satu dari mereka tiba-tiba saja [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Bism Allah, ar Rahmaan ar Rahiim,</p>
<p>Kisah di bawah ini mengingatkanku pada hari-hari pertama aku mengenakan abaya. Sekelompok anak kecil menari-nari di sekelilingku, mengejekku &#8220;ninja kesasar&#8230;ninja kesasar&#8230;&#8221;.</p>
<p>*****<br />
<span id="more-568"></span><br />
Malam tadi, sesuatu terjadi padaku. Aku pergi bersama suamiku dan sekelompok anak muda yang bagiku tampak seperti anggota gang melecehkan aku. Salah satu dari mereka tiba-tiba saja menghampiriku dan berteriak di telingaku seakan ia hendak menghalau seekor monster. Dalam keadaan biasa, aku tak akan terpengaruh dengan prilaku kekanak-kanakan seperti ini, tetapi kali ini setan menyelinap di hatiku.</p>
<p>Aku merenungi semua pengalamanku selama beberapa tahun tinggal di negeri ini. Dari sekelompok anak muda yang mencoba menabrakku sampai ejekan ninja yang selalu aku dengar setiap kali aku bepergian ke luar rumah. Kali ini, aku merasa lemah dan letih menjadi &#8220;mahluk asing&#8221;.</p>
<p>Saat bicara tentang kejadian ini bersama suamiku, kami mulai mencari-cari pilihan, seperti merubah warna abayaku dari warna hitam. Kami merasa mungkin itu akan membantu, Tapi setelah benar-benar memikirkannya, aku ragu itu akan membantu. Ketika aku hampir saja ditabrak, aku justru hanya mengenakan kerudung, celana jins dan baju berlengan panjang. Itu di hari-hari pertamaku sebagai muslim, ketika aku belum tahu bahwa yang aku kenakan bukanlah hijab yang sesungguhnya. Bukan pakaiannya yang jadi masalah, apalagi warnanya. Yang jadi masalah bagi mereka adalah karena penampilanku berbeda, dan aku Muslim.</p>
<p>Kenyataannya masyarakat sekitarku yang sangat mengagungkan indivdualitas adalah masyarakat yang paling represif yang ada di muka bumi ini. Individualitas dianggap baik dan benar sepanjang individualitas itu siring sejalan dengan apa yang dilakukan oleh individu-individu lain dalam mengekspresikan individualitas mereka. Jika semua anak muda di sekitarmu mengungkapkan pemberontakan mereka dengan menyalahgunakan obat-obatan, melakukan seks bebas, yang laki-laki memanjangkan rambut dan yang perempuan memangkasnya pendek-pendek, memakai tato, maka aksi individualistis yang dapat diterima adalah dengan melakukan hal yang sama. Tetapi jika mereka melakukan apa yang aku sebutkan tadi, maka memakai hijab karena ketaatan pada Allah dianggap menyimpang dan tidak dapat diterima.</p>
<p>Allah sudah mengingatkan kita bahwa non-muslim tidak akan menerima kita hingga kita menanggalkan Islam. Kita harus sama dengan mereka agar mereka mau menerima kita. Barulah mereka senang.</p>
<p>Allah berfirman :</p>
<p>&#8220;Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, &#8220;Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya).&#8221; Dan jika engkau mengikuti kemauan mereka setelah ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, tidak akan ada bagimu pelindung dan penolong dari Allah.&#8221; (2:120)</p>
<p>Pada mulanya aku mengira ada baiknya aku melunakkan penampilanku. Tetapi aku sadar bahwa kita terlalu sering menggunakan kata &#8220;bijak&#8221; untuk membenarkan kelemahan kita dalam beragama. Tetapi ketika kita melakukannya kita akan kehilangan keindahan sejati Islam. Kika kehilangan manisnya keyakinan. Menjadi bijak tidak berarti kita harus mengesampingkan keyakinan kita terhadap Allah hanya untuk menyenangkan orang-orang di sekitar kita.</p>
<p>Ibrahim abu Khalid menuliskan :</p>
<p>&#8220;Kata &#8216;bijak&#8217; telah terlalu lama disalahartikan. Kata ini dimaksud untuk menggambarkan pendekatan terbaik kepada orang lain, bertindak dengan cara yang paling layak dengan mempertimbangkan keadaan. Kata ini tidak pernah dimaksud untuk memberikan gambaran yang keliru tentang Islam demi kesenangan personal atau komunitas. Ketika orang-orang Muslim bersedia berkompromi di berbagai sendi kehidupannya, kita akan kehilangan keberpihakan Allah, mengakui kelemahan kita kepada musuh dan kehilangan harga diri kita dalam pandangan Sang Pencipta.&#8221; [majalah Nida'ul Islam (<a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;2d19bedc44232a6a9238038c9bd6923b&quot;, event)" rel="nofollow" href="http://www.islam.org.au/" target="_blank">http://www.islam.org.au</a>), Agustus-September 1995]</p>
<p>Tadi malam, saat mengingat kembali kejadian hari ini, dan betapa lemahnya reaksiku akan kejadian itu, aku merasa amat malu. Apakah aku lebih baik dari Rasulullah SAW dan para sahabat beliau? Tentu saja tidak! Dan ketika aku mengingat apa-apa yang harus mereka tanggung, aku merasa malu akan ketidaksabaranku menghadapi kejadian yang amat sepele seperti hari ini. Para sahabat Rasulullah menanggung siksa, hinaan, kelaparan, dan bahkan kematian. Yang terjadi padaku hanyalah seorang pemuda tanggung berteriak di telingaku. Di mana kesabaran yang selama ini aku dengungkan, kebanggaan akan agamaku, sikap mukhalifa-ku? Jika ini adalah ujian bagiku, maka aku telah gagal total.</p>
<p>Semoga Allah mengampuni aku!</p>
<p>Sekarang apa artinya ini bagiku sebagai seorang Muslim? Aku rasa ini adalah pelajaran bagiku. Aku merasa bahwa aku harus belajar betapa mudahnya setan membuka pintu di dalam hati kita untuk membuat kita bersedia berkompromi dengan lingkungan kita. Berbagai tawarkan menggiurkan diberikan kepada Rasulullah. Beliau ditawarkan untuk memimpin kota Makkah, tetapi beliau menolaknya mentah-mentah. Beliau tidak mau tawar menawar sedikitpun aqidah Islam dengan orang-orang ini, maka tidak juga kita.</p>
<p>Aku tahu bahwa mengenakan warna hitam adalah sunnah. Tak ada dosa bagiku jika aku memilih warna biru atau hijau atau putih. Aku tahu bahwa mungkin akan lebih memudahkan bagiku jika aku memilih warna lain. Tetapi bisakah aku menghormati diriku sendiri seperti sedia kala jika aku membiarkan ejekan kaum kafir menakuti aku sehingga aku harus menanggalkan keyakinan akan agamaku (entah itu fardu atau sunnah)? Di hari perhitungan kelak, bisakah aku dengan jujur mengatakan kepada Allah bahwa aku siap mengorbankan bahkan nyawaku untuk membela keyakinanku terhadapNYA jika aku bahkan tidak mau berjuang menghadapi kerikil-kerikil kecil untuk membela agamaku?</p>
<p>Pertama kali aku memeluk Islam, ide &#8220;penyesuaian diri&#8221; dijejalkan ke dalam pikiranku. Aku disarankan untuk memodifikasi hijabku sedemikian rupa agar lebih &#8220;menyatu&#8221;. &#8220;Gunakan corak yang sedang &#8220;in&#8221;. Buatlah modifikasi agar pakaian yang kau kenakan tidak meninggalkan kesan Islami.&#8221; Begitu kata mereka. Aku lakukan apa yang mereka sarankan. Aku mempertaruhkan agamaku dengan cara tampil lebih seperti non-muslim agar mereka tidak mengintimidasiku.</p>
<p>Hasilnya ? Ketika beberapa teroris mengatasnamakan Islam membajak sebuah pesawat dan membunuh pilotnya, sekelompok anak muda memutuskan bahwa bayaran yang setimpal adalah membunuhku hanya karena aku Muslim sama seperti si teroris. Mereka menginjak pedal gas kuat-kuat, mengarahkan mobil kepadaku. Hanya karena perlindungan Allah aku selamat dari percobaan pembunuhan itu. Secara refleks aku melompat menghindar sementara mobil mereka membentur tiang tepat di belakang tempatku berdiri.</p>
<p>Saat itulah aku sadar bahwa &#8220;penyesuaian diri&#8221; sama sekali tidak ada manfaatnya. Tak perduli apa pun yang aku lakukan. Aku tetap mahluk asing, dan aku merupakan tamparan bagi semua nilai-nilai moral dan budaya mereka, jadi mereka tidak akan pernah bisa menerimaku. Lalu mengapa aku harus mempertaruhkan peluangku di surgaNYA hanya untuk membuat mereka merasa kurang terintimidasi olehku?</p>
<p>Selama beberapa tahun, aku membaca hadith-hadith seperti :</p>
<p>Dikisahkan oleh Jabir bin Abdullah : Rasulullah SAW berkata, &#8220;Saya dikaruniai lima hal yang belum pernah dikaruniakan kepada siapapun sebelum saya. 1. Allah memenangkan saya secara telak, (dengan DIA menakut-nakuti musuh saya) dalam jarak perjalanan satu bulan&#8230;.&#8221; Sahih Bukhari : vol. 1, Buku 7, no. 331).</p>
<p>Lama aku pikirkan makna dari hadith ini. Apa bagusnya takut? Apakah kita ingin orang-orang non-muslim takut pada kita? Ketakutankah yang membuat mereka menyakiti kita di tempat-tempat seperti Bosnia dan Kosovo? Ketakutankah yang membuat mereka melecehkan kita? Mungkin. Tetapi ketakutan jualah yang membuat mereka menghormati kita ketika kita berpegang teguh pada agama kita, ketika kita tidak sudi ditawar.</p>
<p>Ketika agama kita kuat, kita pernah memimpin dunia. Kita berpegang teguh pada agama kita dan kita memiliki kekuatan karena Allah berada di sisi kita.</p>
<p>Ketika kita mulai menawar, kita kehilangan daya. Kemudian kita tertinggal hanya dengan ketakutan terhadap sekelompok orang yang lebih kuat dari kita. Kita justru kehilangan ketakutan kelompok tersebut terhadap kita, perlindungan Allah, karena kita mau ditawar.</p>
<p>Ibn Khaldun berkata, &#8220;Aku tahu Al Andalu akan jatuh ketika aku menyaksikan mereka menyerupai kaum kafir&#8221;. Mereka bangsa yang kuat, tetapi mereka mengorbankan kesenangan Allah terhadap mereka dan menukarnya dengan kesenangan kaum kafir terhadap mereka, dan kaum kafir menghadiahi mereka dengan tumpahan darah kaum Muslim yang mengalir di jalan-jalan bagaikan sungai. Penduduk Bosnia dan Kosovo mencoba &#8220;menyatu&#8221; dengan kaum kafir, kini harga yang harus mereka bayar dengan menjadi tetangga yang baik bagi kaum kafir adalah kehilangan rumah-rumah mereka. Allah juga memperingatkan kita apa yang akan terjadi ketika kita mulai berhenti melaksanakan ajaran agama kita, ketika kita menukar kehidupan di akhirat dengan kehidupan di dunia :</p>
<p><span> &#8220;Berbagai bangsa saling memanggil sebagaimana engkau mengundang tamu untuk makan bersama di satu piring&#8221;, mereka berkata,&#8221;Apakah jumlah kita akan sedikit di hari itu ya Rasulullah?&#8221; Beliau berkata,&#8221;Tidak. Jumlah kalian justru akan sangat banyak, bagaikan buih air laut. Dan Allah akan mengangkat rasa takut di hati mereka dan menempatkan di hati kalian al-wahn&#8221;. Mereka berkata,&#8221;Apa itu al-wahn, Ya Rasulullah?&#8221; Beliau berkata,&#8221;Kecintaan akan dunia dan kebencian akan kematian,&#8221; (Sahih : dinukil dari ceramah Sheikh Al-Albaani : www.ucl.ac.uk/~uczxisl/jih</span></p>
<div style="text-align: justify;">ad.htm).</p>
<p>Aku tahu merubah warna hanyalah hal sepele. Mudah sekali bagiku merubah warna pakaianku dari hitam menjadi warna lain, tetapi Inshaa Allah, aku tak akan membiarkan mereka puas dengan cara itu.</p>
<p>Kapan tawaran-tawaran akan berhenti diajukan? Kapan kecintaan pada Allah melampaui kecintaan pada dunia menggerakkan kita untuk bertindak? Kapan aku berhenti bersikap pengecut dan mulai melawan? Kapan aku akan berkata,&#8221;Cukup sudah! Jalan yang aku pilih adalah jalan yang benar; ini jalan Allah dan apa yang kalian lakukan adalah salah.&#8221;?</p>
<p>Kapan aku akan menjadi penyeru kepada Islam -secara utuh- tanpa kompromi, tanpa pemanis, tanpa ragu? Kapan aku akan menerima bahwa apa yang diperintah Allah -entah itu fardu atau sunnah- adalah yang terbaik dan menawarnya berarti menyinggungku? Kapan aku akan berdiri tegak di hadapan iblis dan berkata, &#8220;CUKUP!&#8221;?</p>
<p>Ini medan tempurku. Kecil memang, aku akui. Tapi di sinilah aku menarik garis tegas. Aku tidak akan menawar apa yang aku tahu adalah yang terbaik hanya untuk menyenangkan mereka yang aku tahu keliru.</p>
<p>Ya Allah kumohon terimalah amalan kecil dariku ini demi ridhaMU dan berikan kami kekuatan untuk berkata CUKUP. Amiin.</p>
<p>Diterjemahkan (oleh sahabatku tercinta, buni) dari catatan seorang mu&#8217;alaf, Shariffa Carlo Al Andalusia. Catatan-catatan lain dari Shariffa Carlo bisa diakses di internet.</p></div>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fkeluarga.kangsandi.com%2Fkisah%2Fbijak-atau-menyerah-wisdom-or-surrender.html&amp;linkname=BIJAK%20ATAU%20MENYERAH%20%28wisdom%20or%20surrender%3F%29"><img src="http://keluarga.kangsandi.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://keluarga.kangsandi.com/kisah/bijak-atau-menyerah-wisdom-or-surrender.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The End</title>
		<link>http://keluarga.kangsandi.com/kisah/the-end.html</link>
		<comments>http://keluarga.kangsandi.com/kisah/the-end.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Jan 2010 12:32:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Teh Dias</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Kumpulan Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://keluarga.kangsandi.com/?p=559</guid>
		<description><![CDATA[I barely knew him, I have seen him in the mosque for some days at different times and for many others I have not. I warmly greeted him and I was keen to know him. Until one day after Al-‘Asr (noon prayer), I stood chatting with a colleague outside the mosque while he was coming. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>I barely knew him, I have seen him in the mosque for some days at different times and for many others I have not.</p>
<p>I warmly greeted him and I was keen to know him. Until one day after <em>Al-‘Asr</em> (noon prayer), I stood chatting with a colleague outside the mosque while he was coming. He greeted him and they seemed to know each other; they were schoolmates. We all engaged in the conversation and I invited them to visit me in my house. They agreed to come the next day after <em>Al-‘Asr</em>.<span id="more-559"></span></p>
<p dir="ltr" align="left"><strong><span style="font-family: Verdana;"> I asked my friend about him, he told me that he was a good character. I wondered why he did not come to the mosque for days although he was living next door. My friend told me that this guy had some bad companions in work and when one of them called him, he did not come to the mosque or attend the prayers and his travels increased. </span></strong></p>
<p dir="ltr" align="left"><strong><span style="font-family: Verdana;"> I prayed to Allah to make me a cause in his guidance and keep him away from his bad companions. I agreed with my friends to try to be his new friends and to go out with him as much as possible in order to keep him back from the bad companionship. The man loved us and our intimacy increased. Our friendship lasted for a long time; we used to go out together in the weekends without any previous plans. I have even frequently canceled a lot of my family’s dates for his sake, as to be a cause in the guidance of one man is better than the whole world. </span></strong></p>
<p dir="ltr" align="left"><strong><span style="font-family: Verdana;"> The time passed and I had to move to a new house on the outskirts of the town. I could not call him for a while, as I did not have a phone there so we were separated for some time. Whenever I tried to call him in his house from any place, the answer was always, “he is not here”. I was informed later that he had returned to his bad companions, he deviated from Allah’s path and went astray after he had tasted the sweet taste of faith. He ignored his family and returned back to his bad behavior; leaving the congregational prayers, recitation of Qur’an, valuable books and good company. He listened to songs and he totally fell behind. </span></strong></p>
<p dir="ltr" align="left"><strong><span style="font-family: Verdana;"> I repented his state and prayed to Allah for both of us. I have even asked some of the brothers to return back and go out with him, but after some time a received a sad call from a friend telling me that the guy was dead. I could not help but saying, “To Allah we belong, and to Him is our return”.</span></strong></p>
<p dir="ltr" align="left"><strong><span style="font-family: Verdana;"> I wanted to know what has happened to him as I have tried to contact him many times but I failed to find him. My friend told me that he has traveled to the East of Asia with his bad companions and he has taken an over dose! “Over dose of what?” I asked. “Of DRUGS”, he replied. “ He died there and was put in a bier on the returned flight with a report stating the cause of his death”, he added.</span></strong></p>
<p dir="ltr" align="left"><strong><span style="font-family: Verdana;"> I was filled with grief for his bad sad end and I realized that hearts are between the fingers of Allah, the most Merciful, He changes it as He likes. The man was not sincere in his repentance (<em>tuba</em>) so he could not proceed, he has even returned to his previous state. “ <span style="color: #800000;">To Allah we belong, and to Him is our return</span>”. </span></strong></p>
<p dir="ltr" align="left"><strong><span style="font-family: Verdana;"> I raise my hands to the sky and supplicate from my entire heart saying: (Oh Allah, the Changer of hearts, makes my heart steadfast to Your religion). </span></strong></p>
<p dir="ltr" align="left"><strong><span style="font-family: Verdana;">Quoted from <em>“Al-Zamn Al-Kadem”</em> (The next period) written by Abd Al-Malik Al-Kasem (amended).</span></strong></p>
<p dir="ltr" align="left"><strong><span style="font-family: Verdana;"> Have you seen dear brothers how the man may leave the right path after he tasted the sweet taste of faith and felt the love of Allah Almighty Who is true when He says, “<span style="color: #800000;">And keep thy soul content with those who call on their Lord morning and evening, seeking His face; and let not thine eyes pass beyond them, seeking the pomp and glitter of this Life; nor obey any whose heart We have permitted to neglect the remembrance of Us, one who follows his own desires, whose case has gone beyond all bounds</span>”.(<em>Al-Kahf: 28</em>).</span></strong></p>
<p dir="ltr" align="left"><strong><span style="font-family: Verdana;">Life is a test that leads either to Paradise or to Hell.</span></strong></p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fkeluarga.kangsandi.com%2Fkisah%2Fthe-end.html&amp;linkname=The%20End"><img src="http://keluarga.kangsandi.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://keluarga.kangsandi.com/kisah/the-end.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
